paket wisata banyuwangi, paket tour banyuwangi

Siapakah yang Pertama Kali Memperkenalkan Kawah Ijen Banyuwangi pada Dunia?

Siapakah yang Pertama Kali Memperkenalkan Kawah Ijen Banyuwangi pada Dunia?

Siapakah yang Pertama Kali Memperkenalkan Kawah Ijen Banyuwangi pada Dunia?

Wisata Kawah Ijen Banyuwangi sudah menjadi destinasi dunia. Fenomena blue fire gunung Ijen Banyuwangi, danau asam Kawah Ijen, dan aktifitas kehidupan penambang belerang, setiap tahunnya telah menarik minat puluhan ribu wisatawan mancanegara untuk datang dan mendaki gunung berapi di ujung paling timur Pulau Jawa ini.

Mungkin sebagian besar wisatawan (khususnya wisatawan lokal) hanya memandang keistimewaan Kawah Ijen Banyuwangi ini dari sisi keeksotisan panoramanya yang indah dan unik. Foto dan selfie dengan background kawah Ijen menjadi sebuah tujuan utama wisatawan (lokal) datang ke Ijen.

Namun di luar negeri sana, khususnya di negara-negara Eropa, terutama di Perancis, orang lebih mengenal Kawah Ijen dari hasil-hasil riset ilmiah. Tulisan riset ilmiah populer tentang Kawah Ijen mengundang turis mancanegara datang, dengan tujuan untuk mendapatkan kesempatan langka menjadi saksi fenomena alam vulkanologi yang unik dan jarang bisa ditemukan di belahan dunia manapun di planet ini.

Kawah Ijen Seperempat Milenium

Menurut catatan sejarah, Kawah Ijen Banyuwangi ternyata telah dikenal oleh bangsa Eropa hampir seperempat milenium yang lalu. Pada tahun 1770, VOC (Belanda) menduduki Banyuwangi dan mendirikan benteng “Utrecht”, yang berada sekitar 48 km arah tenggara dari Kawah Ijen. Tahun 1786, belerang Kawah Ijen telah ditambang untuk bahan mesiu (Bosch, 1858).

Pada tahun 1789 Kawah Ijen dikunjungi oleh Clemens de Harris, komandan benteng Utrecht Banyuwangi (Oudgast, 1820). Kemudian pada tahun 1805, Jean-Baptiste Louis Claude Théodore Leschenault La Tour, seorang ahli botani dan ahli burung dari Perancis mengunjungi dan melakukan observasi kawasan Kawah Ijen (Leschenault (de la Tour, 1858).

Sejak era VOC menduduki Banyuwangi (1770), lalu saat Perancis mengambil alih kekuasaan atas Jawa (1799), kemudian ketika kekuasaan di Jawa diduduki oleh Inggris (1811), sampai saat masa kerajaan Belanda menguasai kembali Pulau Jawa (1816), Kawah Ijen Banyuwangi kerap menjadi obyek observasi, penelitian, dan eksplorasi, di berbagai bidang keilmuan. Baik di bidang geologi, vulkanologi, tambang dan mineral, botani, sampai biologi flora dan fauna.

Katia dan Maurice Krafft

Berbekal informasi awal dari Pak Budiono, seorang mantan penambang belerang senior, yang kini telah beralih tugas mengurus penyulingan belerang, yang bercerita bahwa pada tahun 70-an ia pernah mengantarkan bule peneliti vulkanologi dari Perancis bernama Maurice, saya mulai berburu informasi menjelajah dunia maya.

[wp-svg-icons icon=”tag” wrap=”b”]Baca Juga: Info Blue Fire Kawah Ijen HOAX!

Dari penelusuran berbagai referensi di situs-situs resmi riset vulkanologi, akhirnya saya temukan banyak informasi mengenai pasangan suami istri Maurice Krafft dan Katia, keduanya adalah ahli vulkanologi dan geologi dari Perancis yang melakukan riset di Kawah Ijen, pada tahun 1971.

Kedua peneliti ini datang ke Indonesia atas permintaan Pemerintah RI dan di bawah naungan UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization). Mereka melakukan penelitian gunung-gunung berapi di nusantara sejak 13 Mei 1971 sampai 21 Desember tahun 1971, termasuk di Kawah Ijen.

Penelitian Ekstrim Kawah Ijen

Di Kawah Ijen mereka mengerjakan penelitian yang cukup ekstrim, sampai-sampai mereka berdua yang saat itu masih pengantin baru, melakukan pengarungan danau asam sulfat Kawah Ijen dengan perahu karet.

Tentu saja aktifitas ini taruhannya adalah nyawa. Bagaimana tidak, air di danau ini memiliki tingkat keasaman mendekati nol, yang bisa melarutkan kulit dan daging manusia dalam sekejap bila sampai tercebur ke dalamnya.

Maurice Krafft dan Katia merupakan orang-orang pertama yang memperkenalkan Kawah Ijen Banyuwangi ke dunia internasional di era modern ini. Hasil penelitian mereka dipublikasikan sebagai buku berjudul “À l’assaut des volcans, Islande, Indonésie”, yang diterbitkan oleh Presses de la Cité, Paris, pada tahun 1975.

wisata kawah ijen, blue fire kawah ijen, gunung ijen banyuwangi

Maurice Krafft dan Katia, melakukan penelitian di Kawah Ijen pada tahun 1971

Dalam risetnya di Kawah Ijen Banyuwangi, mereka berdua mengulas tentang sejarah geologi dan vulkanologi Gunung Ijen, sifat-sifat letusan Ijen dalam kurun 200 tahun terakhir, komposisi kimia danau Kawah Ijen, dan aliran sungai limpahan danau kawah yang mengalir ke sungai Banyupahit yang digunakan sebagai irigasi bagi 3.500 hektar lahan pertanian dan dikonsumsi oleh sekitar 100.000 orang warga, sampai resiko komposisi kimia ini bagi kesehatan.

Pengantin Gunung Berapi

Catherine Joséphine Conrad (Katia) lahir 17 April 1942 di Soultz-Haut-Rhin, ia meraih gelar Master di bidang geokimia, dan telah menerima penghargaan untuk karya-karya ilmiahnya dalam hal vulkanologi. Sementara itu Maurice Paul Krafft lahir 25 Maret 1946 di Mulhouse, ia adalah anggota Geological Society of France sejak usia 15 tahun, ia memperoleh gelar Master di bidang geologi. Keduanya kuliah di University of Strasbourg, Perancis.

Katia dan Maurice Krafft menikah pada tanggal 18 Agustus 1970. Sebagai pasangan yang berminat tinggi pada vulkanologi, bulan madu mereka pun dilakukan di daerah pegunungan vulkanik yang berada di Pulau Santorini,Yunani, beberapa bulan sebelum mereka melakukan riset di gunung-gunung berapi Indonesia.

Tragisnya, kedua pasangan pemburu gunung berapi yang telah meneliti 175 letusan gunung berapi di hampir 150 negara ini, akhirnya pun harus menemui ajal di gunung berapi, yaitu di Gunung Unzen, Jepang. Gunung api yang bangun setelah dua ratus tahun tidur, aktif kembali dan meletus.

Pada tanggal 3 Juni 1991, Katia dan Maurice Krafft, beserta Harry Glicken, seorang peneliti dari Amerika, dan 41 orang lainnya, mereka gugur dalam bertugas di Gunung Unzen, terjebak dalam aliran piroklastik, yaitu letusan gunung berapi yang bergerak dengan cepat dan terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan bebatuan. Jenazah mereka baru ditemukan dua hari kemudian.

Jasa Katia dan Maurice Krafft

Kedua ahli vulkanologi ini terkenal berkat bank dokumentasi gunung berapi yang mereka kumpulkan bertahun-tahun. Mereka mengkoleksi sekitar 4.600 tulisan dan karya ilmiah dalam berbagai bahasa, ratusan gulungan film, 300.000 foto dan slide yang indah, video dengan total durasi 300 jam, , 20.000 karya geologi, 6000 litograf kuno dan lukisan dengan tema gunung berapi.

Selama 25 tahun beraktifitas di dunia vulkanologi, mereka telah menulis 20 buku, yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Mereka mengemas ilmu pengetahuan ilmiah tentang vulkanologi dalam bahasa-bahasa populer, agar lebih mudah dipahami. Mereka adalah orang pertama yang menulis buku vulkanologi untuk anak-anak usia lima tahun.

Wisata Kawah Ijen Banyuwangi, Wisata Kawah Ijen, Kawah Ijen Banyuwangi, gunung ijen banyuwangi, blue fire gunung Ijen

Hasil Karya Katia dan Maurice Krafft, Ahli Geologi dan Vulkanologi Asal Prancis

Karya besar terakhir mereka adalah membuat film tentang bahaya gunung berapi, karena mereka prihatin dengan bencana letusan gunung Nevado del Ruiz di Kolombia, yang mengubur kota Armero dan 22.000 penduduknya pada tanggal 13 November 1985. Mereka kemudian membawa foto, video, suara dan animasi, untuk mengedukasi dan menyadarkan pemerintah dan penduduk berbagai daerah tentang bahaya gunung berapi.

Saat Gunung Pinatubo di Filipina meletus, dengan tinggi letusan mencapai 40 km, sekitar 300.000 orang warga setuju untuk meninggalkan rumah mereka di sekitar gunung Pinatubo, setelah melihat film tentang risiko vulkanik yang dibawa oleh Katia dan Maurice Krafft, sehingga hanya terjadi korban jiwa sekitar 300 orang warga yang tewas.

Wisata Kawah Ijen Mendunia

Wisata Kawah Ijen sangat populer di kalangan turis mancanegara, khususnya wisatawan Eropa, terutama turis Perancis. Buku “À l’assaut des volcans, Islande, Indonésie” yang ditulis Katia dan Maurice Krafft perlu kita kenang sebagai buku yang membuat Kawah Ijen Banyuwangi dikenal dunia.

Sampai hari ini bila kita tanya para penambang belerang di Kawah Ijen, mereka pasti mengatakan bahwa turis mancanegara terbanyak yang datang ke Kawah Ijen adalah turis Perancis. Jadi tak heran jika tidak sedikit di antara para penambang belerang Kawah Ijen yang pandai berbahasa Perancis, terutama para penambang belerang senior.

Baca Juga:
[wp-svg-icons icon=”tag” wrap=”b”]Info Blue Fire Kawah Ijen HOAX!
[wp-svg-icons icon=”tag” wrap=”b”]Paket wisata Kawah Ijen murah

Untuk itu kita pun perlu menghargai jasa Katia dan Maurice Krafft sebagai orang-orang pertama yang mempopulerkan Kawah Ijen ke dunia internasional. Kita perlu belajar dari tauladan semangat dan dedikasi kedua sejoli pengantin pemburu gunung berapi ini bagi ilmu pengetahuan.
* * * * *

“It’s very nice to feel. You’re nothing. You’re just nothing when you’re near a volcano. I have seen so many eruptions in the last 20 years that I don’t care if I die tomorrow. Most volcanologists die in bed.” (Katia and Maurice Krafft).

“Sangat bagus untuk merasakan. Anda bukan siapa-siapa. Anda bukan apa-apa apabila Anda berada di dekat gunung berapi. Saya telah melihat banyak letusan gunung berapi dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini, membuat saya tak peduli apabila saya mati besok. Kebanyakan ahli vulkanologi mati di tempat tidur” (Katia dan Maurice Krafft).

Banyuwangi, 17-01-2017
Bachtiar Djanan M.

Related Post